Menaker Ungkap Syarat agar Indonesia Mampu Bersaing Global

Menaker Ungkap Syarat agar Indonesia Mampu Bersaing Global

grandpascellar, Jakarta – Menaker (Menteri Ketenagakerjaan) Yassierli menegaskan bahwa peningkatan produktivitas tenaga kerja menjadi kunci utama daya saing Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan dalam Indonesia Productivity Summit 2025 di Jakarta.

Menurut Menaker Yassierli, produktivitas memiliki pengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain investasi dan penyerapan tenaga kerja, faktor ini menentukan kemampuan Indonesia bersaing secara global.

Oleh karena itu, pemerintah menjadikan produktivitas sebagai fokus kebijakan jangka panjang.
Langkah ini dinilai krusial menghadapi kompetisi ekonomi dunia yang semakin ketat.


Hubungan Langsung Produktivitas dengan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Menaker Yassierli menjelaskan bahwa produktivitas berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi.
Ketika produktivitas meningkat, nilai tambah ekonomi juga ikut naik.

“Jika produktivitas naik, daya saing kita otomatis menguat,” ujar Yassierli, Minggu (14/12/2025).
Pernyataan ini merujuk pada berbagai indikator ekonomi makro.

Selain itu, peningkatan produktivitas berdampak pada efisiensi industri.
Perusahaan dapat menghasilkan output lebih besar dengan sumber daya sama.

Dengan demikian, kesejahteraan pekerja juga berpotensi meningkat.
Upah dan kualitas pekerjaan bisa terdongkrak secara berkelanjutan.


Produktivitas Tenaga Kerja Indonesia Masih di Bawah Rata-Rata ASEAN

Meski menunjukkan tren positif, produktivitas Indonesia masih tertinggal secara regional.
Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan kesenjangan dengan ASEAN.

Pada 2022, produktivitas Indonesia tercatat sekitar 26,6 ribu dolar AS per pekerja.
Angka tersebut masih di bawah rata-rata ASEAN yang mencapai 30,2 ribu dolar AS.

Namun demikian, pertumbuhan produktivitas Indonesia dinilai cukup stabil.
Indonesia sejajar dengan Malaysia dan Thailand dalam periode yang sama.

Sebaliknya, Indonesia masih tertinggal dari China, Vietnam, dan India.
Negara-negara tersebut mencatat lompatan produktivitas lebih cepat.


Struktur Pendidikan Tenaga Kerja Jadi Tantangan Utama

Yassierli menyoroti struktur pendidikan tenaga kerja nasional.
Mayoritas pekerja Indonesia masih berpendidikan maksimal SMA.

Proporsinya mencapai sekitar 85–86 persen dari total tenaga kerja.
Kondisi ini membatasi kemampuan adaptasi terhadap teknologi baru.

Selain itu, keterampilan teknis tingkat lanjut masih terbatas.
Hal ini berdampak pada rendahnya produktivitas di sektor industri modern.

Oleh sebab itu, peningkatan kualitas pendidikan vokasi menjadi prioritas.
Pelatihan berbasis kebutuhan industri harus diperluas secara masif.


Tingginya Pekerja Informal Hambat Produktivitas Nasional

Selain pendidikan, sektor informal juga menjadi sorotan utama.
Sekitar 60 persen tenaga kerja Indonesia masih berada di sektor informal.

Sektor ini umumnya memiliki produktivitas rendah dan minim perlindungan.
Akses terhadap pelatihan dan teknologi juga sangat terbatas.

Akibatnya, kontribusi produktivitas secara agregat menjadi terhambat.
Transformasi ke sektor formal menjadi tantangan besar.

Pemerintah menilai formalisasi tenaga kerja perlu dipercepat.
Langkah ini harus disertai insentif dan perlindungan sosial yang memadai.


Pendekatan Bottom-Up Jadi Strategi Pelengkap Kebijakan Nasional

Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah menerapkan pendekatan bottom-up.
Pendekatan ini melengkapi strategi top-down seperti industrialisasi.

Intervensi dilakukan langsung di tingkat perusahaan.
Fokusnya pada peningkatan efisiensi dan keterampilan tenaga kerja.

“Perbaikan di level perusahaan akan berdampak nasional,” kata Yassierli.
Jika diterapkan luas, efeknya sangat signifikan.

Selain itu, pendekatan ini mendorong inovasi dari akar rumput.
Perusahaan menjadi aktor utama peningkatan produktivitas.


Produktivitas sebagai Fondasi Visi Indonesia Emas 2045

Yassierli menegaskan produktivitas adalah fondasi Indonesia Emas 2045.
Visi tersebut menargetkan Indonesia menjadi negara maju.

Peningkatan produktivitas mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Selain itu, kesejahteraan pekerja dapat meningkat secara merata.

Tanpa produktivitas tinggi, bonus demografi berisiko terbuang.
Indonesia bisa terjebak dalam middle income trap.

Oleh karena itu, investasi pada SDM menjadi keharusan.
Pendidikan, pelatihan, dan kesehatan harus berjalan seiring.


Indonesia Productivity Summit 2025 Dorong Kolaborasi Lintas Sektor

Forum Indonesia Productivity Summit 2025 menjadi momentum strategis.
Tema yang diusung menekankan inovasi dan penguatan modal manusia.

Acara ini mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, dan profesional.
Kolaborasi lintas sektor dinilai penting membangun ekosistem produktivitas.

Selain diskusi, forum ini mendorong komitmen jangka panjang.
Transformasi industri diarahkan agar lebih adaptif terhadap teknologi.

Dengan demikian, gerakan produktivitas memiliki arah kebijakan jelas.
Keberlanjutan menjadi fokus utama dalam setiap program.


Penutup: Produktivitas sebagai Jalan Menuju Daya Saing Global

Peningkatan produktivitas tenaga kerja menjadi agenda strategis nasional.
Pernyataan Menaker Yassierli menegaskan urgensi reformasi SDM.

Tantangan struktural seperti pendidikan dan sektor informal harus diatasi.
Pendekatan kebijakan perlu dilakukan dari hulu hingga hilir.

Dengan kolaborasi lintas sektor, Indonesia berpeluang mempercepat kemajuan.
Produktivitas tinggi akan menjadi motor daya saing global.

Ke depan, konsistensi kebijakan menjadi kunci keberhasilan.
Indonesia dapat melangkah lebih percaya diri menuju 2045.

baca juga di sini : Perkuat Jaringan & Interkoneksi Nasional | iNews Pagi (14/12)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *