Kunjungan Pastoral ke Tanjung Balai untuk Melihat Pelayanan Kemanusiaan
grandpascellar, Jakarta – Uskup Ordinariat Castrensis Indonesia (OCI), Kardinal Ignatius Suharyo, melakukan perjalanan pastoral ke wilayah Tanjung Balai dan Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Dalam kunjungan tersebut, ia menyambangi beberapa institusi TNI–Polri serta sebuah shelter penanganan korban kekerasan dan perdagangan orang bernama Safe Migrant Shelter. Sesi kunjungan ini meninggalkan kesan mendalam bagi Suharyo, terutama saat melihat kelompok anak muda terlibat langsung dalam pelayanan kemanusiaan.
Di shelter yang dilayani oleh Romo Paskalis, Kardinal menemukan hal menarik. Relawan muda di sana memilih menyebut diri mereka sebagai Gen Sa (Samaria / Samaritan), bukan Gen Z seperti istilah umum saat ini. Pemaknaan ini menunjukkan identitas solidaritas dan empati, meniru kisah Samaria Baik Hati dalam tradisi gereja.
“Mereka itu anak-anak muda yang rela mendampingi korban. Sungguh sukarela, tidak dibayar. Mereka punya hati melihat korban menderita dan terluka,” ujar Ignatius Suharyo.
Relawan Gen Sa mendampingi korban kekerasan dan perdagangan orang yang sebagian besar mengalami trauma berkepanjangan. Mereka membantu menyediakan ruang aman, mengurus kebutuhan dasar, hingga memfasilitasi konseling dengan pendamping profesional. Keterlibatan generasi muda ini dianggap Suharyo sebagai bentuk nyata dari peran umat dalam menjaga martabat manusia.
Kardinal Suharyo Apresiasi Kardinal kepada TNI–Polri yang Mengabdi Tanpa Pamrih
Selain ke shelter, Kardinal Suharyo juga berkunjung ke markas TNI dan Polri di wilayah tersebut. Ia bertemu dengan para anggota dan komandan yang bertugas menjaga perbatasan serta keamanan masyarakat. Dalam dialog itu, Suharyo menyoroti besarnya pengorbanan aparat negara dalam menjalankan tugas, khususnya bagi yang bertugas jauh dari keluarga.
“Banyak anggota TNI dan Polri rela berpisah dengan keluarga demi menjaga Republik yang kita cintai,” ungkapnya.
Penugasan anggota di wilayah rawan sering kali menuntut kesiapan fisik dan mental. Mereka harus hadir dalam situasi darurat, konflik, hingga penanganan bencana. Karena itu, menurut Suharyo, gereja berkewajiban mendukung dari sisi rohani dan psikologis. Kehadiran pendamping iman dipercaya mampu menjaga semangat tugas para prajurit agar tetap humanis.
Sejarah Kardinal Suharyo Keuskupan TNI–Polri Berawal dari Masa Kemerdekaan Indonesia
Dalam pembahasan dengan anggota TNI–Polri, Kardinal Suharyo turut menyinggung salah satu struktur paling unik dalam gereja Indonesia, yakni keuskupan khusus umat Katolik di lingkungan TNI–Polri. Keuskupan ini memiliki akar sejarah sejak awal kemerdekaan Republik Indonesia.
Vatikan memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia pada Juli 1947. Dua tahun setelahnya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Menteri Pertahanan membentuk unit rohaniwan bagi angkatan perang demi mendukung perjuangan mempertahankan kedaulatan negara. Dalam waktu singkat, pimpinan gereja mendirikan Vikariat Militer yang kemudian berkembang menjadi Keuskupan Castrensis Indonesia.
“Pendirian keuskupan militer adalah tanda jelas bahwa gereja Katolik mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan,” tegas Suharyo menjelaskan.
Sejak itu, keuskupan berperan dalam pelayanan rohani prajurit dan keluarga mereka. Tidak hanya dalam ibadah, tetapi juga konseling, pendampingan psikologi iman, hingga edukasi moral untuk memperkuat karakter aparat negara. Fungsi ini menjadi penting dalam menjaga sikap profesional serta rasa kemanusiaan dalam menjalankan tugas negara.
Pesan Kardinal agar Identitas Iman dan Nasionalisme Tetap Sejalan
Menutup kunjungan, Suharyo menekankan pentingnya menjaga semangat pelayanan dalam struktur keuskupan tersebut. Ia berharap generasi anggota TNI–Polri Katolik memahami akar sejarah ini dan menghidupkannya dalam tugas sehari-hari.
“Yang memilih profesi TNI dan Polri memperjuangkannya dengan inspirasi iman Katolik. 100% Katolik, 100% Indonesia, 100% TNI, 100% Polri,” pungkasnya.
Pesan itu menjadi penegasan bahwa identitas keagamaan dan kecintaan terhadap tanah air bukanlah hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan berdampingan sebagai nilai pembentuk integritas aparatur negara.
Kesimpulan
Kunjungan Kardinal Ignatius Suharyo ke Tanjung Balai memperlihatkan dua sisi penting dalam kehidupan umat Katolik di lingkungan sosial dan keamanan negara. Di satu sisi, Gen Z dengan identitas Gen Sa menunjukkan kepedulian nyata dalam mendampingi korban kekerasan dan perdagangan orang. Di sisi lain, kehadiran keuskupan militer TNI–Polri menegaskan dukungan historis gereja terhadap perjuangan bangsa. Melalui pesan spiritual dan dialog kemanusiaan, Suharyo mengingatkan bahwa pelayanan, empati, dan nasionalisme harus terus hidup dalam generasi penerus.
baca juga di sini : Ketua MPR Sambut Kedatangan Sekjen Liga Muslim Dunia, Dijadwalkan Bertemu Presiden



