grandpascellar, Menjelang peringatan usia dua abad Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 2026, organisasi Islam terbesar di Indonesia itu menerima kado penting. Kado tersebut berupa tercapainya islah atau rekonsiliasi antara dua pucuk pimpinan PBNU.
Islah itu mempertemukan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Pertemuan berlangsung dalam forum konsultasi di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada 25 Desember 2025.
Momentum ini dinilai krusial karena mengakhiri dinamika internal PBNU yang berlangsung sekitar dua bulan terakhir. Sebelumnya, perbedaan pandangan di tingkat pimpinan sempat memunculkan kekhawatiran di kalangan warga NU.
Namun demikian, forum konsultasi tersebut berhasil mempertemukan kedua tokoh dalam satu meja. Suasana pertemuan berlangsung khidmat dan penuh kehati-hatian.
Baca Juga: Gus Yazid Ditangkap, Jadi Tersangka TPPU
Forum Konsultasi Jadi Titik Temu Pimpinan PBNU
Forum konsultasi ini diinisiasi oleh Syuriyah PBNU. Tujuannya adalah menjaga keutuhan jam’iyah sekaligus mencari jalan keluar dari dinamika organisasi yang berkembang.
Selain itu, forum ini dihadiri secara lengkap oleh unsur Syuriyah, Mustasyar, dan Tanfidziyah PBNU. Kehadiran lengkap tersebut menunjukkan keseriusan organisasi dalam menyelesaikan persoalan secara kolektif.
Dari jajaran Mustasyar PBNU, hadir sejumlah tokoh senior. Mereka antara lain KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, KH Abdullah Ubab Maimoen, dan KH Machasin.
Sementara itu, jajaran Syuriyah PBNU dihadiri Rais Aam KH Miftachul Akhyar beserta para kiai dan cendekiawan NU. Di antaranya KH Abdullah Kafabihi, KH Mu’adz Thohir, KH Imam Buchori, hingga Prof Dr H Mohammad Nuh.
Dari unsur Tanfidziyah, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf hadir bersama H Amin Said Husni. Kehadiran kedua pihak ini menjadi penanda kuat bahwa dialog ditempuh secara terbuka.
Kesepakatan Muktamar Ke-35 NU
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak mencapai kesepakatan penting. Salah satunya adalah rencana penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU.
“Dalam pertemuan itu, kedua belah pihak menyepakati untuk menyelenggarakan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama secara bersama-sama dalam waktu segera,” ujar Gus Yahya usai forum.
Kesepakatan ini dinilai sebagai langkah strategis. Muktamar menjadi forum tertinggi organisasi yang menentukan arah dan kepemimpinan NU ke depan.
Oleh karena itu, hasil forum konsultasi ini memberi kepastian bahwa proses organisasi akan kembali berjalan sesuai mekanisme. Selain itu, potensi perpecahan dapat dihindari.
Pembentukan Panitia Bersama
Sebagai tindak lanjut, PBNU akan segera membentuk panitia bersama. Panitia ini bertugas mempersiapkan penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Katib Aam PBNU Prof Dr KH Mohammad Nuh. Menurutnya, pembentukan panitia menjadi langkah awal yang konkret.
Nuh menjelaskan bahwa forum konsultasi di Pesantren Lirboyo menyepakati muktamar dalam waktu dekat. Tujuannya adalah menjaga ketertiban organisasi dan kesinambungan kepemimpinan.
Sementara itu, terkait struktur PBNU ke depan, keputusan lebih lanjut akan dibahas dalam pleno PBNU. Pleno tersebut akan digelar setelah forum konsultasi ini.
Dengan demikian, seluruh keputusan strategis tetap ditempuh melalui mekanisme organisasi yang berlaku. Hal ini sejalan dengan tradisi NU yang menjunjung musyawarah.
Sikap Kebesaran Jiwa dan Tradisi Islah NU
Selain kesepakatan muktamar, forum ini juga menghasilkan sikap saling memaafkan. Rais Aam dan Wakil Rais Aam PBNU menyampaikan kebesaran jiwa dengan menerima permohonan maaf Ketua Umum PBNU.
Permohonan maaf itu berkaitan dengan undangan terhadap Peter Berkowitz dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU). Undangan tersebut sebelumnya menimbulkan polemik internal.
Namun demikian, persoalan tersebut disikapi secara arif. Nuh menilai langkah ini mencerminkan tradisi NU yang mengedepankan akhlak dan tabayun.
“Sikap ini bagian dari tradisi NU. Penyelesaian masalah dilakukan secara bijak dan berlandaskan kebersamaan,” kata Nuh.
Ia menambahkan bahwa semangat yang dibangun dalam forum tersebut adalah menjaga keutuhan organisasi. Kepentingan jam’iyah ditempatkan di atas perbedaan pandangan personal.
Menjaga Keutuhan Menjelang Dua Abad NU
Islah pimpinan PBNU ini menjadi simbol penting menjelang dua abad NU. Momentum tersebut menunjukkan kedewasaan organisasi dalam mengelola perbedaan.
Di tengah tantangan internal dan eksternal, NU kembali menegaskan jati dirinya sebagai organisasi yang mengedepankan musyawarah. Tradisi dialog menjadi fondasi utama dalam menjaga persatuan.
Akhirnya, kesepakatan di Pesantren Lirboyo ini diharapkan membawa ketenangan di akar rumput. Warga NU di berbagai daerah kini menanti kelanjutan proses muktamar dengan optimisme.
Menjelang usia dua abad, NU kembali menunjukkan bahwa persatuan dan kebijaksanaan tetap menjadi napas utama organisasi.
Baca Juga: Medan Pembunuhan Politik Presiden Prabowo Subianto Di Tahun 2026




Leave a Reply