BNPB: Pemulihan Pascabencana Sumatra Tuntas 100%

BNPB Pemulihan Pascabencana Sumatra Tuntas 100%

grandpascellar, Jakarta – BNPB Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan perkembangan terbaru penanganan dampak banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga akhir Desember 2025, pemulihan pada titik-titik terdampak banjir dinyatakan telah mencapai 100 persen. Meski demikian, percepatan perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan masih terus dilakukan guna menopang fase transisi darurat menuju pemulihan awal.

Informasi tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa (30/12/2025). Menurutnya, laporan ini merupakan hasil konsolidasi lintas kementerian yang terlibat langsung dalam penanganan bencana di lapangan.


Baca Juga: Politik Kemarin Dukungan Pilkada via DPRD hingga Pertemuan Elit

Pemulihan Titik Banjir Capai 100 Persen

Pertama-tama, Abdul Muhari menegaskan bahwa genangan banjir di wilayah terdampak telah sepenuhnya tertangani. Berdasarkan laporan Kementerian Pekerjaan Umum, seluruh titik banjir yang sempat mengganggu aktivitas masyarakat kini sudah pulih.

“Sekali lagi dari Kementerian PU menyampaikan bahwa recovery titik banjir itu sudah 100 persen,” ujar Abdul. Oleh karena itu, masyarakat di wilayah terdampak kini dapat kembali menjalani aktivitas harian tanpa hambatan genangan air.

Namun demikian, ia menekankan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada pemulihan banjir semata. Sebaliknya, fokus kini diarahkan pada fase lanjutan, yakni transisi darurat menuju pemulihan awal.


Fokus Bergeser ke Fase Transisi Darurat

Seiring berjalannya waktu, penanganan bencana telah memasuki tahap transisi darurat di sejumlah daerah. Artinya, perhatian tidak lagi hanya tertuju pada pencarian dan pertolongan korban, tetapi juga pada penataan kehidupan warga terdampak.

Dalam fase ini, BNPB bersama pemerintah daerah menyiapkan hunian sementara (huntara) bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Selain itu, pemulihan akses infrastruktur serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi pengungsi menjadi prioritas utama.

Di sisi lain, operasi pencarian dan pertolongan juga mengalami penyesuaian. Dalam satu minggu terakhir, Tim SAR Gabungan mulai memfokuskan pencarian di area di luar pusat permukiman dan pusat aktivitas ekonomi. Meski begitu, kekuatan personel dan intensitas pencarian tetap dipertahankan.

“Pencarian difokuskan ke titik-titik di luar pusat pemukiman karena kemungkinan korban di area publik sudah sangat kecil,” jelas Abdul. Dengan demikian, strategi pencarian disesuaikan tanpa mengurangi komitmen kemanusiaan.


Proses Evakuasi Korban Masih Berlanjut

Meskipun fase penanganan telah bergeser, upaya evakuasi korban tetap berjalan. Hingga laporan ini disampaikan, belum seluruh korban berhasil ditemukan. Bahkan, pada hari yang sama, tim gabungan kembali menemukan satu korban tambahan yang kemudian berhasil diidentifikasi.

“Kami terus menyampaikan doa dan simpati mendalam kepada keluarga korban,” kata Abdul. Oleh sebab itu, pencarian korban masih menjadi agenda penting di tengah proses pemulihan yang sedang berlangsung.


Akses Jalan Utama Sudah Kembali Tersambung

Selain pencarian korban, pemulihan infrastruktur menjadi pilar utama percepatan pemulihan. Saat ini, akses jalan lintas timur dan lintas barat di Aceh telah kembali normal. Jalur strategis Banda Aceh–Medan pun sudah dapat dilalui tanpa hambatan berarti.

“Lintas timur dan lintas barat sudah tidak ada yang terhambat,” ungkap Abdul. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa ruas yang sementara menggunakan jembatan darurat atau jalur alternatif.

Salah satu jalur yang masih dalam pengerjaan adalah Takengon–Gayo Lues melalui Belangkejeren. Jalur tersebut ditargetkan rampung pada 20 Januari 2026. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada saat melintasi kawasan tersebut.


Progres Pemulihan Infrastruktur di Atas 80 Persen

Secara keseluruhan, progres pemulihan infrastruktur menunjukkan capaian yang cukup signifikan. Dalam satu bulan terakhir, pemulihan badan jalan putus telah mencapai 85 persen. Selain itu, longsoran sebagian badan jalan berhasil ditangani hingga 86 persen.

Sementara itu, penanganan longsoran tebing hampir tuntas dengan progres 96 persen. Dari total 360 titik longsoran, sebanyak 335 titik atau sekitar 93 persen telah selesai ditangani.

Lebih lanjut, dari 38 ruas jalan terdampak, 34 ruas di antaranya telah berhasil dipulihkan. Dengan kata lain, sekitar 89,4 persen ruas jalan kini kembali berfungsi. Menurut Abdul, capaian ini cukup signifikan mengingat tantangan geografis dan cuaca ekstrem di wilayah terdampak.


Distribusi Logistik dan Energi Tetap Berjalan

Di samping pemulihan infrastruktur, distribusi logistik terus dioptimalkan. BNPB memastikan bantuan pangan dan kebutuhan dasar tetap menjangkau wilayah terpencil melalui jalur darat maupun udara, termasuk dari Lanud Iskandar Muda dan Bandara Rembele.

Tidak hanya itu, distribusi energi seperti BBM dan LPG juga menjadi fokus penting. Ketersediaan energi dinilai krusial untuk mendukung operasional layanan publik serta pemulihan ekonomi masyarakat.

“Jika jalan dan listrik pulih, BTS bisa berfungsi, PDAM kembali beroperasi, dan ekonomi masyarakat bergerak,” jelas Abdul. Dengan demikian, pemulihan infrastruktur dasar menjadi fondasi utama kebangkitan daerah terdampak.


Ratusan Ribu Pengungsi dan Status Daerah

Meski jumlah pengungsi menunjukkan tren penurunan, jumlahnya masih cukup besar. Hingga saat ini, tercatat sekitar 395.795 jiwa masih berada di pengungsian. Selain itu, jumlah korban hilang mencapai 163 orang.

Dalam perkembangan terbaru, sebanyak 21 kabupaten dan kota telah memasuki fase transisi darurat. Rinciannya, enam daerah di Aceh, tujuh di Sumatera Utara, dan delapan di Sumatera Barat. Sementara itu, tiga daerah lainnya masih dalam proses penerbitan surat keputusan.

Dengan berbagai capaian tersebut, BNPB optimistis pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat dan terarah. Pada akhirnya, pemerintah berkomitmen mendampingi masyarakat terdampak hingga kehidupan mereka kembali normal dan berkelanjutan.

Baca Juga: ICW Tolak Wacana Pilkada Dipilih DPRD: Ancaman Serius bagi Demokrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *