grandpascellar, Washington, D.C. — Amerika Serikat melancarkan serangan militer berskala besar ke sejumlah lokasi di Suriah pada Jumat, 19 Desember 2025. Operasi ini dilakukan sebagai aksi balasan terhadap kelompok ISIS menyusul tewasnya personel militer AS dalam serangan sebelumnya di dekat Palmyra. Sebuah lembaga pemantau konflik melaporkan sedikitnya lima orang tewas dalam serangan udara tersebut.
Serangan ini menandai eskalasi signifikan operasi kontra-terorisme AS di kawasan. Pemerintah AS menyatakan tujuan utama operasi adalah melemahkan kemampuan tempur ISIS dan mencegah kelompok tersebut membangun kembali kekuatannya.
Baca Juga: AS Susun Rencana Ubah Gaza Jadi Resor Futuristik
Korban Tewas dan Laporan Pemantau Konflik
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), lembaga pemantau perang berbasis di Inggris, menyebut korban tewas berasal dari kalangan pemimpin dan anggota sel ISIS. Mereka menjadi sasaran langsung serangan udara presisi.
Militer Amerika Serikat tidak merinci jumlah korban tewas dalam operasi tersebut. Namun, AS menegaskan target operasi difokuskan pada infrastruktur dan persenjataan ISIS yang telah diidentifikasi sebelumnya.
Latar Belakang Serangan Balasan AS
Serangan ini dilakukan hampir sepekan setelah insiden mematikan di Suriah tengah. Seorang pria bersenjata menewaskan dua tentara Angkatan Darat AS dan seorang penerjemah sipil Amerika di dekat Palmyra.
Pentagon menyebut pelaku diduga berafiliasi dengan ISIS. Insiden tersebut memicu reaksi keras dari Washington dan menjadi dasar pelaksanaan operasi balasan berskala besar.
Operasi Besar-Besaran di Bawah CENTCOM
Komando Pusat AS (CENTCOM) menggambarkan operasi ini sebagai “operasi besar-besaran”. Dalam pernyataan di platform X, CENTCOM menyebut lebih dari 100 amunisi presisi digunakan.
Serangan menargetkan infrastruktur logistik, lokasi senjata, dan fasilitas pendukung ISIS. Operasi ini dilakukan setelah proses identifikasi target melalui intelijen gabungan.


4
Aset Militer yang Dikerahkan
Seorang pejabat AS mengatakan kepada CBS News bahwa lebih dari 70 target dihantam. Berbagai aset militer dikerahkan untuk memastikan efektivitas serangan.
Pesawat tempur F-15 dan F-16 terlibat dalam operasi tersebut. Pesawat serang A-10 Thunderbolt II, yang dikenal sebagai “Warthog”, juga digunakan. Selain itu, helikopter serang Apache turut dikerahkan dalam misi ini.
Keterlibatan Yordania dalam Operasi
Angkatan Udara Yordania ikut ambil bagian dalam serangan tersebut. Pada Sabtu, 20 Desember 2025, pemerintah Yordania mengonfirmasi partisipasinya dalam “serangan udara presisi”.
Operasi Yordania menargetkan posisi ISIS di Suriah selatan. Otoritas Yordania menyatakan langkah ini bertujuan mencegah ISIS menggunakan wilayah tersebut sebagai basis ancaman regional.
Rangkaian Operasi Kontra-Terorisme Terbaru
CENTCOM menyebutkan bahwa sejak 13 Desember, pasukan AS bersama mitra telah melaksanakan 10 operasi di Suriah dan Irak. Operasi tersebut menewaskan atau menangkap 23 anggota ISIS.
Dalam enam bulan terakhir, lebih dari 80 operasi kontra-terorisme telah dilakukan di Suriah. AS menilai tekanan berkelanjutan diperlukan untuk mencegah kebangkitan ISIS.
Identitas Korban Serangan Terhadap Pasukan AS
Pentagon mengidentifikasi dua prajurit yang tewas sebagai Sersan William Howard dan Sersan Edgar Torres Tovar. Keduanya merupakan anggota Garda Nasional Iowa.
Penerjemah sipil Amerika yang tewas bernama Ayad Mansoor Sakat. Selain korban tewas, tiga anggota Garda Nasional Iowa lainnya mengalami luka-luka.
Janji Pembalasan dari Presiden Donald Trump
Presiden Donald Trump sebelumnya berjanji akan melakukan “pembalasan yang sangat serius”. Pernyataan itu disampaikan setelah insiden penembakan di Palmyra.
Trump bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth menghadiri upacara pemulangan jenazah secara kehormatan. Upacara tersebut berlangsung di Pangkalan Angkatan Udara Dover.
Penyelidikan Pelaku dan Respons Suriah
Pejabat Suriah menyatakan pelaku penembakan baru bergabung dengan pasukan keamanan internal sekitar dua bulan lalu. Ia tengah diselidiki atas dugaan keterkaitan dengan ISIS.
Pelaku dilaporkan menyerang pertemuan pejabat keamanan AS dan Suriah. Insiden terjadi saat pertemuan makan siang, sebelum pelaku terlibat bentrok dan melepaskan tembakan.
Dukungan AS terhadap Pemerintah Sementara Suriah
Pada Jumat, Presiden Trump juga menegaskan dukungan terhadap Presiden sementara Suriah, Ahmad al-Sharaa. Trump menyatakan al-Sharaa sepenuhnya mendukung operasi militer AS melawan ISIS.
Dukungan ini dinilai penting dalam koordinasi keamanan di wilayah konflik. AS menekankan kerja sama dengan otoritas lokal untuk menjaga stabilitas.
Respons ISIS dan Situasi Keamanan Terkini
Hingga kini, ISIS belum mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap personel AS. Namun, kelompok tersebut mengaku melancarkan dua serangan terhadap pasukan keamanan Suriah setelah insiden Palmyra.
Salah satu serangan menewaskan empat tentara Suriah di Provinsi Idlib. ISIS menyebut pemerintahan dan militer Suriah sebagai “murtad”, meski memiliki permusuhan lama dengan kelompok tersebut.
Penutup: Eskalasi dan Tantangan Keamanan Regional
Serangan besar AS ke Suriah menunjukkan komitmen Washington melawan ISIS. Operasi ini juga mencerminkan meningkatnya eskalasi militer di kawasan. Ke depan, stabilitas regional akan sangat bergantung pada koordinasi internasional dan tekanan berkelanjutan terhadap kelompok ekstremis.
Baca Juga: Narasi Positif, Swasensor, dan Bayangan Otoritarianisme




Leave a Reply