Jakarta (grandpascellar) – Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia/APKI) menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Ketua Umum APKI periode 2021–2026, Liana Bratasida, pada Senin (22/12) dalam usia 74 tahun. Kepergian Liana menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi APKI, tetapi juga bagi industri pulp dan kertas nasional yang selama puluhan tahun ia perjuangkan dengan konsistensi dan integritas.
Ketua Dewan Pengawas APKI, Ngakan Timur Antara, menilai wafatnya Liana sebagai momen duka yang mendalam bagi seluruh pemangku kepentingan industri. Menurutnya, Liana adalah sosok pemimpin yang tegas, berprinsip, dan memiliki kemampuan diplomasi yang kuat, terutama ketika berhadapan dengan tantangan global.
“Ibu Liana adalah pemimpin yang lugas dan berintegritas. Ketegasan beliau selalu disertai kejelasan arah dan keberpihakan pada kemajuan industri nasional,” ujar Ngakan. Ia menambahkan bahwa jejak kepemimpinan Liana telah meninggalkan standar tinggi yang akan terus dijadikan rujukan oleh APKI ke depan.
Baca Juga: Misbakhun Turun ke Jalan Serap Aspirasi Warga
Kepemimpinan Liana Bratasida yang Mengubah Arah Organisasi
Di bawah kepemimpinan Liana Bratasida, APKI tidak lagi sekadar menjadi organisasi yang reaktif. Sebaliknya, APKI bertransformasi menjadi institusi yang proaktif dalam membangun masa depan industri pulp dan kertas Indonesia. Transformasi ini terlihat dari berbagai langkah strategis yang menempatkan keberlanjutan, daya saing, dan kepatuhan global sebagai prioritas utama.
Selain itu, Liana dikenal aktif membawa suara industri nasional ke forum internasional. Ia kerap berada di garis depan ketika industri pulp dan kertas Indonesia menghadapi isu lingkungan, hambatan dagang, maupun tekanan regulasi global. Pendekatan yang ia gunakan tidak konfrontatif, melainkan berbasis data dan dialog yang konstruktif.
Dengan cara tersebut, industri pulp dan kertas Indonesia mampu mempertahankan posisinya di pasar global. Bahkan, menurut para koleganya, posisi tawar Indonesia di mata mitra internasional semakin menguat selama masa kepemimpinan Liana.
Diplomasi Industri di Tingkat Global
Wakil Ketua Umum APKI, Suhendra Wiriadinata, menambahkan bahwa Liana memiliki kemampuan jejaring internasional yang sangat kuat. Melalui diplomasi industri yang konsisten, suara pelaku usaha pulp dan kertas Indonesia semakin didengar dan dihormati di tingkat global.
“Beliau mampu menjembatani kepentingan industri nasional dengan tuntutan global. Itu tidak mudah, tetapi Liana melakukannya dengan elegan,” kata Suhendra. Menurutnya, keberhasilan tersebut turut berkontribusi pada stabilitas industri di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.
Pada 2025, industri pulp dan kertas nasional mencatat fundamental yang solid. Sektor ini berkontribusi sebesar 3,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas. Angka tersebut menunjukkan bahwa industri ini tetap menjadi salah satu pilar penting perekonomian nasional.
Dampak Nyata Liana Bratasida bagi Tenaga Kerja
Lebih jauh, Suhendra menjelaskan bahwa kepemimpinan Liana juga berdampak langsung pada keberlangsungan tenaga kerja. Industri pulp dan kertas nasional saat ini menyerap lebih dari 288 ribu tenaga kerja langsung. Selain itu, sektor ini menopang lebih dari 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung di berbagai wilayah Indonesia.
Dengan demikian, kebijakan dan advokasi yang dilakukan APKI di bawah Liana bukan hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga pada jutaan keluarga yang bergantung pada sektor ini. Oleh karena itu, keberlanjutan industri selalu menjadi perhatian utama dalam setiap langkah strategis yang diambil.
Hingga pertengahan tahun ini, Indonesia juga semakin memantapkan posisinya sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Kapasitas produksi yang terus bertumbuh menjadi bukti bahwa industri ini mampu berkembang seiring dengan tuntutan global.
Mentor yang Detail dan Visioner
Sementara itu, Wakil Ketua Umum APKI lainnya, Rita Alim, mengenang Liana sebagai sosok mentor yang detail dan penuh kepedulian. Menurut Rita, Liana selalu menekankan pentingnya data dan fakta dalam setiap langkah advokasi.
“Kegigihan beliau dalam memperjuangkan kepentingan industri tanpa melupakan aspek lingkungan adalah teladan yang akan terus kami pegang,” ujarnya. Pendekatan berbasis data tersebut membuat setiap kebijakan yang diperjuangkan APKI memiliki landasan yang kuat dan kredibel.
Selain itu, Liana juga dikenal terbuka terhadap diskusi dan masukan. Ia mendorong generasi penerus di APKI untuk berpikir kritis, namun tetap menjunjung tinggi etika dan tanggung jawab lingkungan.
Warisan Transformasi Hijau
Sebelum wafat, Liana Bratasida sempat memberikan arahan dalam Rapat Kerja APKI pada 16 Desember 2025. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa transformasi hijau bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban.
“Keberlanjutan bukan lagi sekadar tren. Ini sudah menjadi kewajiban kepatuhan dan ekspektasi mutlak rantai pasok global,” tegasnya kala itu. Ia juga menekankan bahwa industri pulp dan kertas Indonesia harus terus beradaptasi agar tetap relevan dan berdaya saing.
Pesan tersebut kini menjadi warisan penting bagi APKI dan seluruh pelaku industri. Di tengah tantangan global yang terus berubah, semangat transformasi hijau yang diperjuangkan Liana akan menjadi fondasi bagi langkah-langkah ke depan.
Akhirnya, kepergian Liana Bratasida meninggalkan duka yang mendalam. Namun demikian, dedikasi, visi, dan integritasnya akan terus hidup melalui kebijakan, standar, dan arah industri pulp dan kertas Indonesia di masa depan.
Baca Juga: Bawaslu Parepare Hadiri Pendidikan Politik Partai Demokrat




Leave a Reply