Moskow (grandpascellar) – Menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner, bersama utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff, dilaporkan telah mempresentasikan draf rencana rekonstruksi Jalur Gaza kepada sejumlah calon investor internasional. Rencana tersebut digambarkan sebagai proyek pembangunan resor futuristik berskala besar.
Laporan tersebut diungkap The Wall Street Journal pada Jumat (19/12). Dalam laporannya, media tersebut menyebut cetak biru proyek bertajuk “Project Sunrise” dirancang sebagai konsep rekonstruksi jangka panjang pascakonflik di Jalur Gaza.
Baca Juga: Aturan Baru Pemanfaatan Kayu Terbit untuk Wilayah Pascabanjir
Konsep “Project Sunrise”
Menurut laporan itu, “Project Sunrise” menggambarkan Gaza sebagai kota metropolitan berteknologi tinggi. Proyek tersebut mencakup pembangunan resor mewah di tepi pantai, jaringan transportasi modern berupa kereta cepat, serta sistem kota pintar yang dioptimalkan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Selain itu, proyek tersebut dirancang sebagai pusat ekonomi baru yang berorientasi pada pariwisata, teknologi, dan layanan kelas atas. Dengan demikian, Gaza digambarkan bukan lagi sebagai wilayah konflik, melainkan sebagai destinasi global dengan infrastruktur modern.
Namun demikian, laporan tersebut menyoroti satu kekosongan besar dalam rencana itu. Draf “Project Sunrise” tidak menjelaskan secara rinci di mana sekitar dua juta warga Palestina akan tinggal selama proses rekonstruksi berlangsung.
Skema Pendanaan dan Peran Amerika Serikat
Dalam cetak biru tersebut, Washington disebut berpotensi menanggung sekitar 20 persen dari total biaya rekonstruksi Gaza. Pendanaan itu direncanakan disalurkan secara bertahap selama periode sepuluh tahun.
Sementara itu, sisa pembiayaan diharapkan berasal dari investor swasta dan kontribusi pemerintah asing. Kushner dan Witkoff disebut telah mempresentasikan proyek ini kepada sejumlah calon investor serta pejabat pemerintah dari berbagai negara.
Beberapa negara yang disebut telah menerima paparan awal rencana tersebut antara lain Turki dan Mesir. Kedua negara ini dinilai memiliki peran strategis dalam dinamika politik dan kemanusiaan di kawasan Timur Tengah.
Tantangan Besar Rekonstruksi Gaza
Meski konsep futuristik tersebut terdengar ambisius, para ahli menilai rekonstruksi Gaza menghadapi tantangan yang sangat besar. Salah satu tantangan utama adalah kondisi fisik wilayah yang masih dipenuhi puing dan amunisi yang belum meledak.
Pada November lalu, ekonom dari Unit Bantuan bagi Rakyat Palestina di Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), Rami Alazzeh, menyatakan bahwa pembersihan amunisi yang belum meledak di Jalur Gaza dapat memakan waktu hingga sepuluh tahun.
Lebih lanjut, jika proses pembersihan puing dilakukan dengan kecepatan saat ini, dibutuhkan sekitar 22 tahun untuk sepenuhnya membersihkan wilayah Gaza dari reruntuhan bangunan.
Skala Kerusakan dan Estimasi Biaya
Selain persoalan waktu, skala kerusakan fisik di Gaza juga menjadi hambatan utama. Pada Oktober, Perwakilan Khusus Program Pembangunan PBB (UNDP) untuk Program Bantuan bagi Rakyat Palestina, Jaco Cilliers, mengungkapkan bahwa sedikitnya 50 juta ton puing harus dipindahkan dari wilayah tersebut.
Angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan logistik yang harus dihadapi sebelum pembangunan ulang dapat dimulai. Oleh karena itu, proses rekonstruksi diperkirakan tidak bisa dilakukan secara cepat.
Selain itu, UNDP memperkirakan bahwa biaya rekonstruksi Jalur Gaza dapat mencapai sekitar 70 miliar dolar Amerika Serikat atau setara lebih dari Rp1.168 triliun. Estimasi ini mencakup pembangunan kembali infrastruktur dasar, perumahan, fasilitas kesehatan, serta layanan publik lainnya.
Kritik dan Pertanyaan Kemanusiaan
Seiring mencuatnya “Project Sunrise”, sejumlah pengamat mempertanyakan aspek kemanusiaan dari rencana tersebut. Absennya penjelasan mengenai relokasi sementara warga Palestina menimbulkan kekhawatiran serius.
Di sisi lain, para kritikus menilai bahwa pendekatan berbasis resor mewah dan investasi pariwisata berisiko mengabaikan kebutuhan mendesak warga lokal. Kebutuhan tersebut meliputi tempat tinggal layak, layanan kesehatan, pendidikan, dan jaminan keamanan.
Karena itu, sejumlah pihak menilai bahwa rekonstruksi Gaza seharusnya menempatkan warga Palestina sebagai pusat dari setiap perencanaan pembangunan, bukan sekadar objek dalam proyek investasi global.
Masa Depan Rekonstruksi Gaza
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat terkait status final “Project Sunrise”. Selain itu, belum jelas apakah rencana tersebut akan diadopsi secara resmi atau tetap berada pada tahap gagasan awal.
Namun demikian, kemunculan proyek ini menunjukkan bahwa isu rekonstruksi Gaza telah menjadi perhatian serius di tingkat global. Ke depan, perdebatan diperkirakan akan terus berlangsung, terutama terkait keseimbangan antara kepentingan investasi, politik, dan hak-hak kemanusiaan warga Palestina.
Sumber: Sputnik / RIA Novosti – OANA
Baca Juga: TOP 3: Megawati Bicara Bencana hingga Klarifikasi Mendagri




Leave a Reply