Grandpas Cellar Udara Jakarta Pagi Ini Buruk, Warga Disarankan Pakai Masker Kualitas udara Jakarta pagi ini kembali memburuk. Berdasarkan data situs pemantau IQAir, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta tercatat berada di angka 163, yang masuk dalam kategori tidak sehat. Dengan nilai PM2.5 mencapai 71,5 mikrogram per meter kubik, Jakarta menempati posisi keenam sebagai kota dengan udara terburuk di dunia pada Selasa (21/10/2025).
Kondisi ini berarti udara berpotensi berbahaya bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. IQAir merekomendasikan warga untuk menghindari aktivitas luar ruangan, menggunakan masker, serta menutup jendela agar udara kotor tidak masuk ke dalam rumah.
Menurut klasifikasi kualitas udara, kategori baik berada pada rentang PM2.5 antara 0–50, yang tidak menimbulkan efek pada kesehatan. Sementara itu, kategori sedang (51–100) masih aman untuk sebagian besar orang, namun dapat memengaruhi tumbuhan sensitif. Kategori tidak sehat dimulai dari 151 ke atas, dan semakin tinggi nilainya, semakin besar pula risiko terhadap kesehatan.
Kota-kota dengan polusi lebih tinggi dari Jakarta hari ini antara lain Delhi (India) di peringkat pertama dengan AQI 1111, Lahore (Pakistan) di urutan kedua dengan 254, disusul Kalkota (India), Mumbai (India), dan Tashkent (Uzbekistan).
Sebagai upaya pemantauan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta telah meluncurkan platform pemantau kualitas udara terintegrasi yang didukung oleh 31 titik Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU). Data dari stasiun ini ditampilkan secara real-time untuk membantu masyarakat memantau kondisi udara di sekitar mereka.
Kondisi polusi yang terus berulang menjadi peringatan penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat kebijakan lingkungan dan mengurangi sumber emisi, terutama dari kendaraan dan industri. Kesadaran individu untuk memakai masker dan membatasi aktivitas luar ruang juga menjadi langkah kecil namun penting dalam melindungi kesehatan.
Udara Jakarta Pagi Ini Buruk, Warga Disarankan Pakai Masker Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat, Warga Diminta Pakai Masker
Liputan6.com, Jakarta — Kualitas udara di Jakarta pada Selasa (21/10/2025) pagi kembali memburuk. Berdasarkan data situs pemantau udara IQAir, indeks kualitas udara (AQI) DKI Jakarta tercatat di angka 163, yang berarti masuk kategori tidak sehat. Dengan angka tersebut, Jakarta menempati peringkat keenam kota dengan udara terburuk di dunia.
Konsentrasi polutan PM2.5 di Jakarta mencapai 71,5 mikrogram per meter kubik, melebihi ambang batas aman. Angka ini menunjukkan udara yang berpotensi berbahaya bagi kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan. Polusi tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia, hewan, bahkan merusak tanaman dan menurunkan nilai estetika lingkungan.
Dalam klasifikasi IQAir, kategori “baik” memiliki rentang PM2.5 antara 0–50, yang tidak memberikan efek negatif terhadap kesehatan. Sementara kategori “sedang” berada di angka 51–100, “tidak sehat” di 151–200, “sangat tidak sehat” di 200–299, dan “berbahaya” di 300–500.
Melihat kondisi udara yang buruk, IQAir merekomendasikan agar masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan. Warga juga disarankan menggunakan masker saat berada di luar dan menutup jendela rumah untuk mencegah udara kotor masuk.
Sementara itu, kota dengan kualitas udara terburuk di dunia hari ini adalah Delhi, India, dengan AQI mencapai 1111. Disusul Lahore (Pakistan) di posisi kedua dengan 254, Kalkota (India) ketiga dengan 213, Mumbai (India) keempat dengan 187, dan Tashkent (Uzbekistan) di posisi kelima dengan 179.
Sebagai langkah pengawasan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta kini telah meluncurkan platform pemantau kualitas udara terintegrasi. Sistem ini didukung oleh 31 titik Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang tersebar di berbagai wilayah.
Data dari SPKU tersebut akan ditampilkan melalui platform pemantau udara resmi milik Pemprov DKI. Langkah ini menjadi bagian dari penyempurnaan sistem pemantauan sebelumnya dan sudah disesuaikan dengan standar nasional yang berlaku.
Dengan tingkat polusi yang terus berulang, pemerintah diharapkan memperkuat kebijakan pengendalian emisi kendaraan, industri, dan pembakaran terbuka. Di sisi lain, kesadaran masyarakat untuk mengurangi sumber polusi juga menjadi kunci dalam memperbaiki kualitas udara di ibu kota.
“Gunakan masker dan kurangi aktivitas luar ruangan sampai udara kembali membaik,” demikian imbauan situs IQAir yang dikutip dari laporan hari ini.



